Setelah putus dengan bf yg udah 10 bulan lebih, rasanya campur aduk. Ada sedikit perasaan menyesal (karena sudah lama dsb), ada perasaan amat lega (karena sudah berani ambil keputusan), ada perasaan bersalah (karena menyakiti hatinya), dan yang paling dominan adalah sedih (melihat ekspresinya).
Di satu sisi, aku tau ini benar. Karena dalam keadaan normal sehari-hari, aku tau aku sudah tak memiliki perasaan sayang lagi ke padanya, komunikasi kami seolah hanya formalitas, basa-basi, kaku, dan.... asing. Kalau memaksa diteruskan lagi, sedangkan aku tak yakin kami bisa berubah, endingnya akan bisa jadi sangat brutal. Apalagi kalau sudah sampai ke orang tua dsb. Akan semakin banyak pihak yang tersakiti. Aku juga sudah membicarakannya dengan mama. Dan tanpa diduga, ternyata mama mendukung keputusanku untuk putus. Ya, ternyata mama dan papa tak begitu menyukainya. Karena ia tak pernah datang ke rumah dan mengenalkan dirinya. Well, ternyata.. Shocking, it is.
Tapi tak ayal, keputusan yang benar pun terkadang sulit untuk diimplementasikan. Terutama saat aku harus mengungkapkan padanya. Sulit. Sulit sekali. Berhadapan langsung, melihatnya dalam kondisi SANGAT rapuh, benar-benar mematahkan hatiku. Dia seperti... akan hancur. Ada ketakutan yang sangat besar bahwa keputusanku bukan saja hanya akan menghancurkan hatinya, tapi juga hidupnya. Aku tau bahwa aku telah banyak berperan dalam hidupnya dan aku tau bahwa hidupnya baru benar-benar dimulai setelah kedatanganku. Itulah mengapa sangat sulit bagiku untuk membuat keputusan ini. Ini bisa jadi bukan hanya perkara putus cinta, tapi bisa jadi putus harapan hidup. Tidak, teman. Aku tidak melebih-lebihkan. Ini kenyataan.
Saat aku mulai berbicara, ia menggenggam tanganku, menciumnya beberapa kali. Aku merasakan betapa rapuhnya ia. Aku bisa saja mundur di titik ini, tapi aku tetap maju.
Aku sungguh-sungguh ketika aku mengatakan mencoba untuk menahan air mata yang mendesak untuk jatuh. Aku mencoba untuk tak memandang matanya, takut akan apa yg kulihat di sana. Dan suatu ketika, aku melakukan kesalahan dengan memandang matanya. Dan aku melihat keputusasaan. Itulah saatnya airmataku menyerah melawan gravitasi. Aku mulai menangis.
Tapi aku terus berbicara, menjelaskan semua masalah yg kurasakan. Sikap cueknya yang membuatku selalu merasa insecure, komunikasi sehari-hari kami yang dingin, kurangnya aku mendapatkan perhatian darinya, basic needsku, sampai akhirnya perasaanku padanya. Aku jelaskan betapa akhir-akhir ini aku tak lagi merasakan hal yang pernah kurasakan padanya. Perasaan itu telah banyak berkurang.. bahkan menghilang.
Saat itulah dia meminta kesempatan. "Just give me one more chance. One more chance to make you love me."
I shaked my head, "No".
"Please.. please.." He said it with tears on his eyes.. his voice was trembling.
And i just kept saying no...... while he kept trying, “please..please”
It broke my heart. Really did.
Hingga akhirnya dia diam, ekspresinya memilukan. Airmata menggenang di matanya. And I just sat there, crying. Dia menerima keputusanku. Dia mengatakan beberapa hal yang baik tentangku, hal-hal yang tak pernah dia katakan semasa kami berhubungan dulu. Hal yang dikaguminya dariku, dan selama ini aku tak pernah tau.
Aku membatin, why now?? Kenapa dari 10 bulan bersama ia tak pernah mengatakannya? kenapa ia memilih sekarang, saat hubungan ini sudah tak bisa diselamatkan lagi...??
Mungkin ia menganggap itu upaya penyelamatan dirinya yang terakhir. Aku tak tau. Tapi aku tetap pada pendirianku. Hubungan kami harus diakhiri.
Then he hugged my tightly. He started to cry.. his body was trembling badly. He lost his voice. I never saw him like that before. And all i could say was, "Sorry..."
Kemarin adalah salah satu hari yang paling buruk dalam hidupku. Mungkin aku takkan pernah bisa lupa.
Dear friends,
Life goes on, i know. Suatu hari nanti kami akan sadar pelajaran apa yang bisa kami petik dari hubungan kami. A very good friend said to me that We can't always HAVE what we WANT, though we want it so bad that it hurts.
Secara umum, dia (my ex) baik. Dia sabar, dia baik dan tak pernah banyak menuntut, dia menerima, dia (benar-benar) bukan orang yang sombong. Dia adalah lelaki yang didambakan hampir setiap wanita, dia hampir ideal. Permasalahannya hanya dia belum tau bagaimana mencintai seorang wanita, atau dalam kasus ini dia mungkin hanya belum mencintaiKU. Suatu saat dia akan bertemu seorang wanita yang sangat spesial, yang benar-benar membuatnya jatuh cinta sampai dia benar-benar berusaha untuk membahagiakan wanita tersebut. Dan saat itu, dia akan ingat padaku dan sadar bahwa aku benar. Keputusanku benar. Dia tidak benar-benar mencintaiku.
Aku juga harus belajar untuk let go our past. Sometimes it still hits me.. reminiscing all the things we've done and all the places we've visited. Aku harus belajar merelakan semua yang telah terjadi di masa lalu. Aku harus move on.
Walaupun sekarang masa-masa yang cukup
sulit, terutama karena dia masih mengubungiku, berharap kami dapat
kembali seperti dulu bla bla bla. But life really goes on.
Suatu hari nanti, rasa sakit akan
berganti dengan penerimaan, lalu harapan akan kebahagiaan akan datang.
Dan cerita kami akan berganti dengan cerita yang baru.
Ah... I hope I can do the same.
BalasHapusIni keputusan yg tepat. Dan sangat cerdas.
Smart girl!
Semuanya pasti memang berat...
Tidak ada perpisahan yg nggak berat, krn itu artinya kita harus memulai rutinitas baru, dan mungkin kita ngrasa gak nyaman dengan rutinitas baru. Akan ada pagi yang berbeda dengan pagi sewaktu memilikinya.
Tapi pasti kak iyin kuat. Pasti. Ini semua hanya butuh waktu.
Ada yg bilang waktu moveon seseorang itu adalah sepertiga dr masa pacaran... semoga kak iyin bs lebih cpt.
You deserve to get someone better. :)
Loveyou my smartgirl!
-A-
Iya aku pikir juga gitu.. cuma masalah waktu aja. Nangis2 bombai di awal putus itu biasa.. :'D
BalasHapusLove you too :*
Aku baru baca, telat deh ;((
BalasHapusberkaca2 nih bacanya, terharu banget, tp mau gimana yah, kalo udah gak ada lagi rasa itu ya, percuma dipertahankan hanya untuk "menghibur" hatinya itu.
Jujur lebih baik...
we're here for you, always :")*hug*
Iya betul...
HapusSeseorang bilang, "Orang yang mengubah kita menjadi lebih baik sudah punya satu peran penting dalam hidup kita. Dan kita tak berhak mengharapkan dia berperan daripada itu"
Dia telah mengubahku menjadi lebih baik juga dalam beberapa hal. Tapi perannya cukup sampai di situ.. inilah saatnya untuk dewasa dan merelakan. Aku yakin banget dia akan dapet yang jauh lebih baik daripada aku.
Thanks for the support :')